Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika?

03 June 2020 - Kategori Blog

Dua biji kopi yang terbilang paling dikenal di dunia adalah robusta dan arabika. Keduanya memiliki karakteristik berbeda mulai dari bentuk fisik, proses pengolahan, hingga rasa. Selain robusta dan arabika, sebenarnya ada banyak jenis kopi berbeda di dunia. Kebanyakan muncul atau tercipta karena kawin silang yang terjadi di alam atau dikembangkan oleh peneliti. Tiap jenis punya karakter dan rasa yang berbeda juga.

Berikut ini perbedaan antara biji kopi robusta dan arabika.

Biji kopi robusta

Biji kopi jenis ini jadi yang paling banyak terdapat di dunia. Menurut William Heuw, owner dari brand Kopi Kangen, kopi robusta cenderung lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Kopi robusta juga lebih mudah dalam hal penanaman dan perawatan. Pohon kopi robusta hanya perlu ditanam di lahan yang berada di ketinggian di bawah 1000 mdpl. Karena itulah lahan kopi robusta juga cenderung lebih luas daripada kopi arabika.

“Kalau arabika kan harus di atas gunung. Di Indonesia juga kebanyakan robusta sih, petani lebih gampang untuk tanam juga,” ujar William pada Kompas.com, Selasa (10/3/2020).

Jumaira memilah biji kopi di Desa Gombengsari, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (22/6/2018). Kopi Gombengsari yang dikenal dengan kopi robusta berkualitas terbaik memiliki ciri aroma khas buah kelapa dan cara memasaknya yang berbeda yaitu menyangrai dengan kuali tanah liat dan menumbuk biji kopi dengan kayu hingga jadi bubuk.

Pohon kopi robusta bisa tumbuh di ketinggian yang rendah, iklim yang panas, dengan kondisi air yang sedikit. Itu berpengaruh pada rasa kopi robusta yang cenderung tak senikmat arabika. Sementara menurut Dadang Hendarsyah, selaku Unit Head da ICS Manager PT. Olam Indonesia Sunda Cluster, kopi robusta dalam proses pengolahan bijinya sangat sederhana. Para petani cenderung sering melakukan proses natural untuk biji kopi robusta.

“Mereka setelah dipetik itu dikuliti dan dikeringkan pakai oven. Prosesnya mudah jadi harganya juga lebih murah daripada arabika,” jelas Dadang pada Kompas.com, Selasa (10/3/2020).

Sementara dari bentuk, biji kopi robusta cenderung bulat. Untuk rasa kopi robusta cukup asam dan punya kandungan kafein lumayan tinggi.

Biji kopi arabika
Biji kopi arabika dianggap jauh lebih baik dan berkualitas dari biji kopi robusta. Biji kopi arabika cenderung tak tahan hama sehingga harus mendapatkan perawatan ekstra. Petani Indonesia tak terbiasa menanam arabika tapi menurut Dadang, beberapa tahun ini produksi arabika mulai meningkat. Rasa kopi arabika cenderung lebih kaya daripada robusta, sedangkan bentuknya oval. Rasanya halus dan punya tingkat keasaman yang cukup tinggi dan kafein yang rendah.

“Arabika penanamannya baiknya di atas 1000 atau 1500 mdpl,” ujar William. Pohon kopi arabika harus ditanam di tanah yang berada di dataran tinggi.

Menurut Dadang, tingkat pH dalam tanah pun berpengaruh. Ukurannya harus sekitar 5,6. Selain itu tanah yang ada di dataran tinggi juga cenderung lebih gembur sehingga tidak terkontaminasi pestisida, menghasilkan biji kopi yang bagus. Dari proses biji serta penanaman pun biji kopi arabika cenderung lebih rumit. Karena tak tahan hama, biji kopi arabika perlu dirawat secara intensif. Menurut Dadang, biji kopi arabika punya kulit yang sensitif. Hal itu berpengaruh pada harga biji kopi arabika yang cenderung lebih mahal daripada robusta.

“Arabika harus di-pulping lalu fermentasi. Setelah itu dijemur sampai kering, dibuka kulitnya. Dikeringkan juga tidak boleh pakai oven, harus langsung dengan matahari karena kulitnya sensitif. Kalau dioven nanti akan mengubah cita rasa arabika,” jelas Dadang.

Rasa kopi dipengaruhi teknik roasting dan penyeduhan
Menurut William, walaupun biji robusta dan arabika punya rasa yang cukup seragam di masing-masing jenisnya, tapi ada juga kopi robusta dan arabika yang berasal dari daerah origin berbeda akan memiliki rasa yang berbeda. Rasa kopi dipengaruhi oleh lokasi penanaman dan cara roasting serta penyeduhan yang dilakukan. Khususnya pada teknik roasting dan penyeduhan untuk mengeluarkan rasa khusus dari biji kopi tersebut. “Tergantung roastery yang menggunakan berbagai teknik untuk mengeluarkan cita rasa berbeda. Misalnya, biji yang sama-sama dari Malabar tapi diproses di roastery berbeda. Rasanya mungkin bisa jadi berbeda,” jelas William.

“Ada yang medium light, medium, dark roasting, medium to dark. Nah tahap roasting itu akan menciptakan rasa yang berbeda. Selain itu juga ada tahap penyeduhan yang membedakan,” lanjutnya. Menurutnya, biji kopi pada dasarnya punya karakteristik masing-masing. Ketika proses roasting, proses itu akan memperkuat dan mengeluarkan karakteristik tersebut. Maka dari itu banyak juga orang atau komunitas yang suka “mengulik” kopi. Mereka mencoba proses roasting dengan tingkat panas yang berbeda kira-kira akan menghasilkan rasa kopi seperti apa. Setelah di-roasting, biji kopi pun masuk tahap penyeduhan. Teknik penyeduhan pun ada beragam. Menurut William, tahap ini juga akan menghasilkan rasa yang berbeda satu sama lain.

“Bisa ditubruk, bisa manual brew V60, aeropress, pasti nanti hasilnya berbeda. Ada yang body tebal, asamnya tinggi, rasa pahitnya terasa, macam-macam,” tutup William.

Sumber : Kompas.com

 
Chat via Whatsapp